-->

Iklan

Nuning Seorang Ibu yang Harus Mengalah dan Rindu pada Putrinya

ERSAN/ICCANK KORWIL SULSEL
29.8.21, Minggu, Agustus 29, 2021 WIB
masukkan script iklan disini



NUNING
Magetan merupakan kota kecil yang menyimpan sebongkah kenangan yang tak terburai, mengemas kehidupan penuh gejolak, hampa, tercecer diantara detak dan titik langkah yang gontai. Namun ada sosok perempuan yang mampu bertahan menangkal dan mengemas menjadi suatu bentuk perwujudan yang nyata, bahwa Nuning mampu menyudahi persoalan itu, walau hatinya perih dan walau secara jujur Nuning harus dengan lantang menyuarakan isi hatinya yang pedih kering kerontang tak terhiba itu dengan sia-sia.

Sementara selembar daun jati luruh tercampak tersapu angin malam dan terhempas, terjerembab ke tanah basah, sebasah pipi Nuning yang sore itu harus menuai kenyataan, kini terukir kembali pada dinding-dinding kerinduan yang hampa pada putri kesayangannya, yang direbut oleh suaminya, lantaran perceraian. Nuning harus kalah dalam persidangan. Kalah dalam pengertian finansial, karena tidak bisa menghadirkan pengacara. Pokoknya kalah dari segalanya. Ia pulang dengan tangan hampa, membawa kepedihan dan luka hati yang paling dalam.
Aku mencoba untuk menghampirinya, kebetulan rumah Nuning tidak jauh dari tempatku nginap. Di Magetan ini aku masih punya goresan karya yang belum terselesaikan, jadi aku masih agak lama tinggal di sini, hingga aku bisa kenal dan bersahabat dengan wanita cantik single parent yang bernama Nuning Andini.

"Aku sama sekali tidak bisa melupakan anakku......" rintih Nuning yang membuatku merasa iba dan seakan tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya harus berbuat apa ! Memandang wajah Nuning yang sendu itu.

"Dan aku harus berjuang bagaimana untuk merebut kembali anakku....." katanya lagi pelan. Aku hanya bisa menghela nafasku.
Angin sore meluruhkan sehelai daun jati untuk kedua kalinya, tercampak pada tanah gersang, segersang hati Nuning

Dari segi hukum bila mengacu tentang hak asuh anak dalam UU. Jika terjadi perselisihan akibat hak asuh, maka pengadilan yang akan memutuskan anak akan ikut dengan siapa. Biasanya, pengadilan akan memberikan hak asuh perwalian dan pemeliharaan kepada ibu jika anak masih di bawah umur (belum 12 tahun menurut Kompilasi Hukum Islam pasal 105).
Jika anak sudah bisa memilih, ia diperbolehkan memilih ingin diasuh oleh ayah atau ibunya. Sedangkan pihak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan anak adalah ayah.

Namun kenyataannya, tak semudah yang kita bayangkan. Nuning ya tetap seperti ini, harus menunggu berhari-hari ujud kerinduan kembali pada tempatnya, yang kini tersembunyi dan sepi, (dwi.BI)

Publish : Ersan
Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini